Keberhasilan Como 1907 menembus kasta tertinggi Liga Italia hingga mengamankan tiket kompetisi Eropa telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi fans Como dan penggemar Serie A. Prestasi klub dari tepi Danau Como ini tidak lepas dari campur tangan Grup Djarum sebagai pemilik saham mayoritas. Peran Mirwan Suwarso sebagai presiden klub mewakili manajemen sukses menyulap klub yang nyaris bangkrut ini menjadi kesebelasan elite yang amat disegani.
Rentetan kesuksesan tersebut memicu sebuah ekspektasi dan pertanyaan besar di benak jutaan pencinta sepak bola tanah air. Kapan kita bisa melihat pemain asli Indonesia bermain untuk Como di atas rumput hijau stadion Giuseppe Sinigaglia? Harapan para pendukung tersebut sebenarnya sangatlah logis mengingat kuatnya koneksi emosional pemilik klub dengan tanah air.
Banyak pihak berasumsi bahwa kepemilikan saham mayoritas seharusnya bisa memuluskan langkah talenta terbaik Indonesia untuk merumput di Eropa. Sayangnya, realitas di balik industri sepak bola Eropa sama sekali tidak sesederhana urusan nepotisme atau sekadar kekuatan relasi kedekatan. Halangan utamanya bukanlah kurangnya rasa nasionalisme pihak manajemen, melainkan murni karena adanya regulasi yang berasal dari otoritas sepak bola Italia.
Liga Italia Serie A memiliki aturan pembatasan yang luar biasa ketat terkait kuota pendaftaran pemain berpaspor di luar Uni Eropa. Setiap klub yang berkompetisi di kasta ini diikat oleh peraturan yang membatasi jumlah pemain asing secara ekstrem. Mirwan Suwarso secara lugas menjelaskan, “Kalau peluang selalu pasti ada, namun kendalanya di Italia itu hanya boleh ada dua pemain non-Eropa.”
Batasan maksimal dua slot untuk pemain di luar Eropa ini otomatis menjadi rintangan bagi talenta Asia. Ironisnya, aturan kuota dua pemain ini tidak hanya berlaku terbatas untuk susunan skuad pilar utama di level tim senior saja. Regulasi tersebut nyatanya berlaku mengikat dan menyeluruh untuk semua tingkatan usia di struktur internal akademi tanpa ada pengecualian. Pemain-pemain Asia harus bersaing dengan pemain-pemain dari negara-negara seperti Amerika Latin dan Afrika.
Kondisi ini membuat klub tidak bisa sembarangan merekrut bibit muda asal Indonesia dengan dalih investasi pembinaan jangka panjang. Mirwan kembali memberikan gambaran peliknya situasi tersebut, “Bukan hanya untuk di tim utama tapi sampai paling bawah, jadi kalau gua ngambil pemain muda usia 16 tahun di tim senior, jatahnya tinggal jadi satu.”
Perekrutan satu pemain belia non-Eropa di tingkat akademi terbukti akan langsung menyunat separuh dari total jatah berharga milik skuad senior. Mengingat teramat pentingnya slot tersebut, jajaran direksi dan dewan taktik tim harus berpikir ribuan kali sebelum merekrut pemain non-Eropa.
Tim pencari bakat Como tidak membandingkan pesepakbola Indonesia dengan warga lokal, melainkan mengadunya dengan para pemain bertalenta lain lintas benua. Mirwan menegaskan, “Kita harus benar-benar mencari bakat yang paling bagus karena cuma punya jatah dua pemain non-Eropa, berarti itu persaingan dari Brazil, Argentina, Uruguay, Afrika.”
Berdasarkan paparan logika tersebut, pemain asli Indonesia yang bisa masuk paling tidak memiliki kualitas setara atau melampaui kemampuan atlet potensial dari negara-negara yang disebutkan di atas. Manajemen Como akan terjebak pada pilihan dilematis dalam mengorbankan dua kuota berharga tim mereka. Terkait solusi pemilihan pilar, Mirwan memaparkan filosofi klubnya, “Tinggal kita mau pilih pemain muda asing yang harus jadi bakat istimewa banget, atau pemain pengalaman yang bisa menjaga level kita.”
Untuk memenuhi kebutuhan musim ini, Como diketahui mengalokasikan satu jatah pemain luar benua mereka kepada seorang punggawa tangguh dari Brasil. Talenta negeri Samba tersebut berani dipinang ke Italia lantaran profilnya telah memenuhi riwayat jam terbang yang menjanjikan di level kompetisi elite Eropa. Ia membawa mental juara yang solid berkat pengalaman panjangnya berseragam klub papan atas seperti Aston Villa maupun Sevilla.
Jauh pada musim-musim sebelumnya, barisan petinggi direksi ini sebenarnya pernah menantang regulasi dengan berani mendatangkan punggawa asing asal daratan Irak serta Gambia. Amat disayangkan, rekam jejak adaptasi kedua pemain luar Eropa tersebut pada akhirnya macet dan berujung pilu dengan pencoretan paksa dari skuad. Mereka berdua terbukti mengalami kebuntuan asimilasi kebudayaan serta gagal menyelaraskan visi dengan rumitnya taktik pelatih.
Lantas, apakah keberadaan regulasi ini menjadi pertanda matinya asa keterlibatan figur sepak bola Indonesia dalam internal klub? Jawabannya jelas tidak. Mirwan berani menjamin komitmen pengembangan anak bangsa, “Keinginan ada tapi posibilitas yang sulit, ya kita lebih banyak memberikan kesempatan buat pelatih atau analis.”
Catatan publik pastinya masih merekam erat momen tatkala striker legendaris kebanggaan timnas kita, Kurniawan Dwi Yulianto, dipercaya memangku peran sebagai staf pelatih pendamping. Tidak puas hanya menempatkan pelatih, jajaran dewan klub terus memperlebar jaring penyerapan tenaga intelektual Indonesia ke departemen analisis, seperti sosok Dani Suryadi yang pernah dibahas di situsweb ini.
Di bawah dewan klub, penentuan siapa saja staff yang bisa masuk ke internal klub mutlak menyandarkan pada parameter objektivitas data, tanpa disetir nepotisme atau ego nasionalisme. Semua sudah punya aturan main dan filosofi yang jelas, semua demi pertumbuhan klub Como secara bisnis.