Di balik kebangkitan Como 1907 yang kembali menjejak Serie A setelah 21 tahun, berdiri dua nama besar Indonesia, mereka adalah Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono yang lebih dikenal sebagai Hartono Bersaudara. Bukan sekadar pemilik, mereka menghadirkan visi korporat besar yang mengubah klub tradisional menjadi proyek olahraga, pariwisata, dan lifestyle yang terintegrasi.
Hartono bersaudara adalah pemilik Grup Djarum, konglomerat yang memiliki kepentingan di industri rokok kretek, perbankan (Bank Central Asia/BCA), elektronik (Polytron), serta beragam investasi lain. Kekayaan mereka menempatkan keluarga ini di jajaran orang terkaya di dunia, yang memungkinkan mereka membiayai ekspansi ambisius di luar Indonesia.
Jejak bisnis inilah yang menjadi modal finansial dan manajerial saat mereka mengambil alih Como 1907 pada tahun 2019 melalui entitas SENT Entertainment. Selain sebagai patron sepakbola di Italia, Hartono bersaudara telah sejak lama berkaittan erat dengan olahraga di Indonesia, termasuk bulu tangkis melalui PB Djarum yang melahirkan banyak atlet top.
Profil Hartono Bersaudara dan Perannya di Bisnis Serta Olahraga
Michael Bambang Hartono lahir di Kudus pada 2 September 1939. Ia dikenal sebagai sosok yang tenang, visioner, dan fokus pada strategi jangka panjang. Bersama adiknya, ia mewarisi dan juga mengembangkan Djarum menjadi raksasa industri rokok kretek nasional. Peran Michael juga sangat menonjol dalam ekspansi grup ke sektor perbankan melalui Bank Central Asia (BCA).
Robert Budi Hartono, lahir pada 28 April 1940, dikenal lebih ekspresif dan aktif dalam berbagai lini ekspansi bisnis. Ia memainkan peran penting dalam diversifikasi Djarum Group ke sektor teknologi, elektronik (Polytron), property, dan investasi global. Di dunia olahraga, Budi Hartono memiliki reputasi kuat sebagai patron bulu tangkis Indonesia melalui PB Djarum.
Kepemilikan Como 1907 menandai langkah mereka memasuki arena sepak bola Eropa, sejak akuisisi, investasi besar dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban klub, membangun skuad, merekrut staf teknis, dan menghidupkan kembali insfrastruktur. Hasilnya terlihat nyata, Como 1907 mengalami kebangkitan prestasi dan promosi bertahap menuju kasta tertinggi Italia.
Kini, di musim keduanya di Serie A, Como 1907 menjadi tim kuda hitam bagi klub-klub elit di Italia. Tim asuhan Cesc Fabregas berada di zona Eropa sementara ini dan beberapa kali memberi kejutan seperti berhasil mengalahkan Juventus. Selain itu, Como 1907 tidak terkalahkan di 12 laga di semua kompetisi sebelum tren positif itu dirusak oleh Inter Milan.
Hartono Bersaudara Bangun Proyek Como 1907 Dengan Pengalaman Bisnis
Beberapa aspek menarik dari proyek Como 1907 adalah skema diversifikasi, dimana mereka bukan hanya mengandalkan hasil di lapangan, tetapi membangun merek Kota Como. Manajemen Como 1907 bersama komunitas Kota Como memadukan pariwisata, fashion streetwear, video streaming klub, hingga produksi bir lokal.
Selain Hartono bersaudara, nama-nama internasional juga terlibat sebagai investor minoritas atau duta yang membantu mengangkat profil klub di pasar global seperti Cesc Fabregas dan Thiery Henry. Strategi tersebut sangat mirip dengan branding destinasi yang menempatkan klub sebagai inti dari ekosistem lifestyle.
Hartono bersaudara membuktikan bahwa kepemilikan klub tidak lagi soal trofi semata, melainkan tentang integrasi antara olahraga, bisnis, dan komunitas. Dengan modal finansial, jaringan global, dan pendekatan brand-centric, mereka merombak Como 1907 dari klub kecil menjadi proyek budaya dan ekonomi yang ambisius.