Pada Sabtu malam, 29 November 2025, pertandingan pekan ke-13 Serie A 2025/26 menyajikan momen yang lebih dari sekadar duel antara Como 1907 vs Sassuolo. Di tengah tensi laga, muncul pertemuan penuh makna antara seorang pemain senior, Jay Noah Idzes, dan talenta masa depan, Lyfe Oldenstam.
Pertemuan ini menarik bukan karena skor, melainkan karena cerita di balik darah, identitas, dan potensi masa depan bagi Indonesia. Lyfe Oldenstam adalah pemain muda berusia 18 tahun, lahir pada 2 Februari 2007, dan berposisi sebagai bek. Kini, pemain Belanda U-19 tersebut bermain di tim Primavera (U-19) Como 1907.
Sebelumnya, ia sempat berkarier di akademi klub-klub Belanda seperti Ajax Amsterdam dan PEC Zwolle sebelum bergabung dengan Como 1907 pada musim panas 2025. Statistiknya di level tim muda sudah menunjukkan bahwa ia dianggap sebagai talenta yang menjanjikan, meskipun masih dalam tahap awal karier profesional.
Lyfe Oldenstam: Talenta Potensial Como 1907 yang Memiliki Darah Indonesia dan Peluangnya Bermain untuk Garuda
Lyfe Oldenstam memiliki garis keturunan Indonesia dari pihak ibu, kakek dan nenek ibunya disebut berasal dari Jakarta. Lewat darah inilah, ia dan Idzes menemukan kesamaan identitas, sebuah akar Indonesia yang kini mengalir pada dua generasi pemain Eropa. Tak hanya fakta keturunan, semangat “kembali ke akar” tampak dalam sikapnya.
Dalam beberapa kesempatan, Lyfe Oldenstam menunjukkan kebanggaan terhadap darah Indonesia seperti mencoba makanan khas Indonesia dan lainnya. Bahkan, ia memiliki tato di lengannya yang bertuliskan kata “Keluarga” dalam bahasa Indonesia.
Sebagai bek muda, Lyfe Oldenstam dikenal lewat disiplin defensif, kesigapan, serta kemampuan teknisnya di lini belakang. Selain itu, ia sering melakuka build up dan membantu penyerangan lewat sisi sayap kiri atau sayap kanan. Hal ini tentu menjadi modal penting bagi seorang pemain Eropa yang meniti karier dari akademi top seperti Ajax.
Menurut dirinya, ia mengaku banyak belajar dari pertemuan dengan Jay Idzes, khususnya tentang adaptasi di Italia, profesionalisme, dan cara berkembang sebagai pemain muda di luar negeri. “Bertemu Jay Idzes adalah pengalaman yang sangat berharga, kami berbicara tentang beradaptasi dan berkembang di negara baru.” ujarnya, dikutip dari bola.net (1/12).
“Jay sudah lebih dari dua tahun di Italia, kemampuan bahasa Italianya sangat baik, dan saya juga terus berusaha memperbaiki kemampuan saya,” katanya menambahkan. Meskipun saat ini masih fokus pada tim nasional Belanda U-19, Lyfe Oldenstam tidak menutup kemungkinan suatu saat bakal membuka peluang baru untuk membela skuad senior Indonesia.
Dalam pertandingan Como 1907 melawan Sassuolo itu, Jay Idzes tampil penuh selama 90 menit untuk Sassuolo. Sementara, Lyfe Oldenstam hadir di stadion meskipun belum bermain di tim senior dan berbagi waktu singkat bersama Jay Idzes usai laga. Percakapan mereka tentang keluarga, akar Indonesia, adaptasi di Italia, dan mimpi masa depan membela tim nasional Indonesia.
Bagi Lyfe Oldenstam, momen tersebut seperti menyalakan lampu harapan, bahwa jalan menuju tim nasional Indonesia (bukan hanya Belanda) suatu saat bisa terbuka lebar. Saat ini, ia masih terdaftar sebagai pemain muda hasil pembinaan dan berkiprah di Belanda U-19. Dengan darah Indonesia dari jalur keturunan maternal dan kesamaan dengan Idzes, peluang tersebut tak bisa dianggap spekulatif.
Bukan Sekadar Foto, Pertemuan Jay Idzes dan Lyfe Oldenstam adalah Simbol Harapan Tim Nasional Indonesia
Pertandingan Como 1907 vs Sassuolo di pekan ke-13 Serie A 2025/26 menghasilkan momen yang lebih berkesan daripada sekadar skor akhir. Bertemunya dua pemain keturunan Indonesia, satu sebagai bek senior sekaligus kapten tim nasional Indonesia, dan satu lagi sebagai talenta muda potensial yang akan membuka babak harapan baru bagi sepak bola Tanah Air.
Lyfe Oldenstam sendiri mengaku kagum terhadap kualitas dan perjalanan Jay Idzes baik sebagai bek dan sosok sentral tim nasional Indonesia. Bagi banyak pengamat, pertemuan mereka di Como 1907 malam itu bukan sekadar foto bersama. Ini adalah simbol harapan, bahwa generasi diaspora berikutnya bisa berdiri tegak, mempertahankan akar, dan membawa kebanggaan bagi Indonesia lewat sepak bola profesional.
Dengan darah, dedikasi, dan mimpi, Lyfe Oldenstam dan Jay Idzes menunjukkan bahwa akan dan identitas bisa menjadi jembatan. Jika dikembangkan dengan baik, bukan tak mungkin suatu hari kita akan melihat bek muda keturunan diaspora membela bendera Merah Putih di pentas Eropa maupun Internasional.