Como 1907 tidak pernah kehabisan bakat muda pesepakbola yang berprestasi tidak hanya di Italia, tapi juga di Eropa. Selain Marco Simone dan Stefano Borgonovo, nama lain dari akademi Como 1907 yang menaklukkan sepak bola Eropa adalah Luca Fusi. Jika dibandingkan Simone dan Borgonovo, nama Luca Fusi mungkin tidak selalu terdengar.
Namun, kontribusinya bagi klub-klub besar Italia dan keberhasilannya meraih berbagai trofi prestisius menjadikannya salah satu figur pekerja keras yang tak tergantikan. Luca Fusi adalah representasi sempurna dari pesepakbola Italia klasik yang disiplin, tangguh, dan juga cerdas dalam membaca permainan lawan.
Luca Fusi lahir pada 7 Juni 1963 di Lecco, Italia. Ia memulai perjalanan karier sepak bolanya dari akademi Como 1907, klub yang membentuk fondasi karakter dan gaya bermainnya. Dengan tinggi badan 1,75 meter, Luca Fusi bukanlah pemain bertubuh besar, namun ia mengompensasinya dengan kecerdasan taktik, determinasi, dan konsistensi permainan yang luar biasa.
Raihan Gelar Domestik dan Eropa Menjadi Bukti Perjalanan Karier Luca Fusi
Pada musim 1981/82, ia berhasil menembus tim utama Como 1907 dan perlahan membangun reputasinya sebagai pemain serba bisa di lini tengah dan pertahanan. Kemampuan Luca Fusi dalam bermain sebagai gelandang bertahan, sweeper, hingga bek tengah menjadikannya aset berharga bagi klub.
Ia dikenal memiliki positioning yang sangat baik, tekel bersih, serta ketenangan saat menguasai bola di bawah tekanan. Keunggulan lainnya adalah fleksibilitas peran dan kepemimpinan senyapnya di lapangan. Luca Fusi jarang melakukan aksi mencolok, namun selalu hadir di momen krusial untuk menutup ruang dan menjaga keseimbangan tim.
Performa solidnya bersama Como 1907 membawanya hijrah ke Sampdoria pada musim 1986/87. Di klub ini, Luca Fusi mulai mencicipi atmosfer tim papan atas dan berhasil meraih juara Coppa Italia pada musim 1987/88. Kariernya terus menanjak saat bergabung dengan Napoli pada musim 1988/89, di mana ia menjadi bagian dari era emas klub.
Bersama Napoli, Luca Fusi meraih gelar Serie A musim 1989/90 dan UEFA Europa League di musim 1988/89, sebuah pencapaian bersejarah yang memperkuat namanya di kancah Eropa. Setelah itu ia membela Torino pada musim 1990/91 dan meraih Mitropa Cup serta Coppa Italia pada musim 1992/93.
Di musim 1994/95 Juventus merekrutnya dari Torino untuk menambah kekuatan di lini pertahanan. Meski sempat dipinjamkan ke FC Lugano pada paruh kedua musim tersebut, ia kembali ke Juventus dan menjadi bagian dari skuad juara UEFA Champions League musim 1995/96. Gelar ini melengkapi koleksi trofinya bersama Juventus (Serie A 1994/95 dan Coppa Italia 1994/95).
Legenda Tanpa Sorotan Besar, Namun Jejaknya Tetap Membekas dalam Sejarah Sepakbola Italia
Secara statistik, Luca Fusi mencatatkan 535 pertandingan profesional dengan mencetak 11 gol dan 2 assist, angka yang mencerminkan perannya sebagai penjaga stabilitas, meski bukan sebagai striker. Kekurangan Luca Fusi hanya terletak pada kontribusi ofensif yang minim serta kecepatannya yang tidak begitu menonjol, terutama di fase akhir kariernya.
Namun, kelebihannya dalam membaca permainan dan disiplin taktik membuatnya selalu dipercaya oleh pelatih. Salah satu hal menarik dari Luca Fusi adalah konsistensinya bermain di level tertinggi selama lebih dari 15 tahun, tanpa pernah kehilangan identitas sebagai pemain inti tim. Ia kemudian pensiun pada musim 1997/98, meninggalkan warisan sebagai simbol profesionalisme dan dedikasi.
Luca Fusi mungkin bukan legenda dengan sorotan besar, tetapi jejaknya dalam sejarah sepak bola Italia adalah bukti bahwa kejayaan tim sering kali dibangun oleh mereka yang bekerja dalam diam. Perjalanan kariernya merupakan sebuah warisan yang bermula dari akademi klub kecil seperti Como 1907 dan berakhir di puncak Eropa.