Como 1907, klub sepak bola asal Lombardia, Italia telah menorehkan salah satu kisah kebangkitan paling impresif di skena sepak bola Eropa beberapa tahun terakhir. Dari era kegelapan di kasta rendah hingga kini menjadi kekuatan baru di Serie A, perjalanan klub ini dibalik layar tak hanya soal kemenangan di lapangan, melainkan juga tentang manajemen, data, dan komunitas.
Dalam wawancara terbarunya, Presiden klub Mirwan Suwarso mengungkapkan rahasia di balik transformasi mereka. Menurut Mirwan Suwarso, langkah kunci pertama adalah menyusun roadmap yang jelas untuk Como 1907. Ia mengatakan jika roadmap tersebut mulai di fokuskan sejak klub masih di Serie B dan tidak ada perkembangan.
“Dari Serie B ke Serie A itu yang paling berat, kita sampai tiga tahun di Serie B. Disitu baru mulai kita pake science lah, kita mulai pake data analytics dan semua untuk akhirnya kita memulai rekrutmen yang menggunakan sistem bukan cuma feeling. Lalu, kita juga bikin kayak roadmap gitu loh dari Serie B naik ke Serie A caranya gimana, dari Serie A untuk bertahan gimana. Jadi kayak udah ada blueprint yang mau kita lakukan,” ungkap Mirwan Suwarso dalam wawancaranya bersama Ganindra Bimo yang dikutip dari YouTube Karbida FC pada Selasa (4/11/2025).
Pelan Tapi Pasti, Kebangkitan Como 1907 Lewat Fondasi Roadmap dan Data Analytics
Dengan mengutamakan data, Como 1907 tidak lagi mengandalkan intuisi pelatih semata. Analisis yang mendalam tentang kelemahan tim, kebutuhan spesifik posisi pemain, hingga karakteristik permainan klub menjadi landasan perekrutan dan pengembangan. Dari sudut pandang manajemen modern, pendekatan tersebut membuat Como 1907 menjadi lebih prediktif dalam pencapaian target, bukan hanya bergantung pada keberuntungan atau momentum.
Melalui perekrutan cermat dan inklusif di semua level, Como 1907 memecah kebiasaan lama klub yang sering membeli pemain berdasarkan nama besar saja. Sebaliknya, mereka menetapkan strategi perekrutan sesuai gaya permainan dan kebutuhan posisi dari data. Hal ini dibuktikan pada dua jendela transfer terakhir, dimana Como 1907 merekrut talenta muda potensial di tiap posisi.
Selain itu, keterlibatan figur sepak bola ternama seperti Cesc Fabregas yang kini menjadi pelatih kepala, serta Thierry Henry yang menjadi pemegang saham minoritas dan membantu aspek komersial klub. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa klub melihat keseluruhan ekosistem sepak bola, dari pelatih, pemain, analisis data, hingga merk serta brand.
Perjalanan Como 1907 bukan hanya cerita tentang promosi atau kemenangan di lapangan. Seperti yang dibeberkan oleh Mirwan Suwarso, keberhasilan sejati datang dari perencanaan matang, data yang digunakan sebagai landasan keputusan, manajemen dan bisnis yang terpisah namun selaras, serta komunitas yang menjadi bagian dari proses.
Klub yang dulu nyaris lenyap kini bukan hanya sekadar bertahan di Serie A, tetapi tampil sebagai kekuatan yang diyakini akan bersaing bahkan untuk kompetisi Eropa. Ini adalah bukti bahwa sepak bola modern bukan sekadar soal bakat pemain di atas lapangan, tetapi juga soal visi jangka panjang, ekosistem yang tepat, dan koneksi dengan masyarakat luas.