Sejak Como 1907 resmi diakuisisi oleh SENT Entertainment (Grup Djarum) dan sukses menembus Serie A, nama klub ini sontak menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Narasinya sudah sering kita dengar: klub Italia dengan “cita rasa” Indonesia, disokong kekuatan finansial besar, dan ditangani oleh legenda sepak bola, Cesc Fabregas.
Namun, melabeli Como hanya sebatas “Klub Sultan” rasanya terlalu menyederhanakan. Di balik keindahan danaunya, Como menyimpan sejarah panjang yang kaya akan seni, drama, dan irisan sains. Klub ini bukan sekadar tim kemarin sore, melainkan institusi dengan karakter yang kuat.
Bagi Anda yang baru mulai mengikuti kiprah I Lariani, berikut adalah lima fakta menarik tentang Como 1907 yang jarang diulas, namun penting untuk memahami identitas klub ini yang sesungguhnya.
1. Kota Kelahiran Sang Penemu Baterai
Jika Anda merasa permainan Como diharapkan memiliki “energi” yang menyengat, mungkin itu selaras dengan DNA kota asalnya. Como adalah tanah kelahiran Alessandro Volta, fisikawan penemu baterai listrik.
Volta bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan ikon kota. Jejaknya diabadikan melalui Tempio Voltiano (Kuil Volta), sebuah bangunan neoklasik yang berdiri megah di tepi danau, tak jauh dari markas klub. Semangat inovasi inilah yang tampaknya diadopsi oleh manajemen baru: menjadikan Como sebagai sumber energi segar bagi sepak bola Italia, bukan sekadar tim tradisional yang kaku.
2. Stadio Sinigaglia: Cagar Budaya, Bukan Sekadar Stadion
Lupakan stadion modern yang berbentuk generik. Kandang Como, Stadio Giuseppe Sinigaglia, adalah sebuah monumen arsitektur yang menawan. Dibangun pada tahun 1927 di era Benito Mussolini, stadion ini merupakan representasi arsitektur Rasionalis Italia.
Keunikannya terletak pada bentuk tribun yang melengkung tak simetris. Hal ini karena dulunya stadion ini memiliki velodrome (lintasan balap sepeda). Meski lintasannya kini tak lagi digunakan, struktur aslinya tetap dipertahankan. Sinigaglia juga menawarkan kemewahan yang langka. Penonton bisa menyaksikan laga Serie A dengan latar langsung Danau Como dan pegunungan Alpen. Statusnya sebagai cagar budaya memang menyulitkan renovasi besar-besaran, namun justru itulah yang membuatnya otentik.
3. Rivalitas Sejati: Bukan Milan, Tapi Lecco
Karena lokasinya di region Lombardy, banyak yang mengira rival utama Como adalah raksasa tetangga mereka, AC Milan atau Inter Milan. Anggapan ini keliru. Musuh bebuyutan Como yang sebenarnya adalah Calcio Lecco 1912.
Pertemuan kedua tim ini dikenal sebagai Derby del Lario (Derbi Danau). Ini adalah perseteruan geografis klasik antara dua kota yang berbagi danau yang sama; Como di ujung cabang barat daya, dan Lecco di ujung tenggara. Bagi pendukung lokal, gengsi mengalahkan Lecco sering kali lebih mahal harganya ketimbang menghadapi tim-tim elit Serie A.
4. Bangkit dari Dua Kali Kebangkrutan
Sebelum era stabilitas di bawah Hartono Bersaudara, menjadi pendukung Como adalah ujian kesabaran. Klub ini adalah definisi nyata dari ketangguhan (resilience).
Dalam dua dekade terakhir, Como pernah mengalami masa kelam hingga dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi sebanyak dua kali, yakni pada tahun 2004 dan 2016. Mereka harus merasakan pahitnya turun kasta hingga ke Serie D dan memulai kembali dari liga amatir dengan identitas baru. Melihat Como kini berlaga di kasta tertinggi dengan manajemen yang sehat adalah sebuah pencapaian luar biasa bagi klub yang pernah nyaris hilang dari peta sepak bola.
5. Menjual Gaya Hidup, Bukan Sekadar Tiket Pertandingan
Perhatikan strategi Como di luar lapangan. Di bawah visi kepemilikan baru, Como 1907 memposisikan diri lebih dari sekadar klub sepak bola; mereka bertransformasi menjadi media & entertainment company.
Hal ini terlihat jelas dari branding mereka. Jersey Como, yang turut didesain oleh perancang busana Didit Hediprasetyo, dibuat dengan sentuhan artistik tinggi layaknya produk fashion, bukan sekadar baju olahraga. Selain itu, kehadiran Como TV dengan konten dokumenter berkualitas tinggi menegaskan niat mereka: menggaet pasar global yang mencintai traveling, keindahan Italia, dan gaya hidup, bukan hanya fanatik sepak bola.
***
Como 1907 adalah perpaduan unik antara sejarah klasik Italia, estetika alam, dan manajemen modern yang visioner. Menjadi pendukung Como berarti mengapresiasi sebuah klub yang memiliki “jiwa” dan karakter, lebih dari sekadar mengejar poin di klasemen.
Bagaimana menurut Anda? Fakta mana yang paling menarik perhatian Anda tentang klub yang bermarkas di tepi danau ini?